Selasa, 10 Mei 2011

berapung dilaut mati

Teman-teman ada yang pernah mendengar Laut Mati? Laut Mati ini terletak di antara negara Yordania dan Israel. Panjang Laut Mati yaitu 77 kilometer dan lebarnya 18 kilometer. Dinamakan Laut Mati karena tidak ada satupun binatang dan tumbuhan yang hidup di dalamnya. Hal itu karena, kadar garam di dalamnya sangat tinggi, yaitu enam kali lebih banyakdibandingkan air laut biasa.

Karena kandungan garamnya sangat tinggi, kandungan mineral, magnesium klorida, kalsium klorida dan potasium kloridanya juga sangat besar. Kandungan tersebut dipercaya dapat membuat kulit lebih halus. Bahkan pasir-pasir di sekitar pantainya banyak dijadikan masker oleh para wisatawan wanita yang berkunjung ke sana.

Lalu, mengapa kandungan garam di laut mati sangat tinggi ? Hal itu karena, saat hujan datang mineral garam terbawa oleh air sungai. Jadi, semua mineral seperti sodium, magnesium dan silika yang ada di bumi terbawa oleh air sungai dan bermuara ke Laut Mati.

Aliran air di sekitarnya seperti sungai Yordan dan beberapa anak sungai lainnya juga akan bermuara ke Laut Mati. Tetapi, air-air yang ada di laut mati tidak akan kembali mengalir ke tempat lain. Air Laut Mati akan mengalami penguapan saat cuaca panas. Nah, saat penguapan ini garam-garam tidak akan terbawa dan tertinggal di lautan. Sehingga, kadar garamnya setiap hari akan bertambah dan lebih asin dibandingkan dengan laut-laut lainnya.

Dahulu luas Laut Mati lebih luas dari sekarang. Tetapi, karena penguapan yang tinggi air laut semakin berkurang dan kadar garamnya semakin tinggi. Dan, setiap tahun kadar garamnya akan semakin bertambah.

Nah, hal yang sangat menarik dari Laut Mati adalah kalian bisa berenang tanpa takut tenggelam. Karena kadar garamnya sangat tinggi, seseorang yang berenang di Laut Mati bisa mengapung. Jadi, untuk kalian yang tidak bisa berenang dan takut tenggelam, tidak perlu khawatir jika bermain-main di Laut Mati.

getirnya cinta

Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,
Mereka yang hanya ingin bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,
Mereka yang mencintainya, menyebutnya takdir.
Allah mengetahui yang terbaik, akan memberi ujian untuk menguji kita,
Kadang cinta melukai hati, supaya hikmahnya bisa tertanam dalam.
Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan dibaliknya,
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa Ia mengambil sesuatu, Ia akan memberi yang lebih baik.
Mengapa menunggu?
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa,
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono,
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.
Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.
Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius
Perlu kau ketahui bahwa :
Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam waktu sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.
Kebanyakan hal yang indah dalam kehidupan memerlukan waktu yang lama,
Dan penantian tidaklah sia-sia. Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal
Iman, keberanian, pengharapan.
Penantian menjanjikan satu hal yang tak dapat dibayangkan oleh seorang pun.
karena apa kawan???????? karena CINTA...

cinta

aku hanya bisa merindumu
tanpa bisa memberi nama
pada sebuah rasa yang sekali aku mencecapnya
lidahku kelu dan menyerah untuk berkata
sesuatu yang lama tapi tak pernah usang
sesuatu yang mengalahkan aku setiap aku melawannya
dan sesuatu yang melebihi harta yang mampu untuk membelinya

aku hanya bisa memandangmu
menyentuh bayang bayangmu
membiarkan aku tenggelam dalam setiap kepak sayapmu
untuk ku pada mu sesuatu telah menerbangkan aku
sesuatu yang membekukan khayalanku
sesuatu yang setia menemani sang waktu
dan sesuatu yang telah ada sejak sejarah
namun tak pernah usang...........

CINTA

...namun sungguh kupuja cinta walaupun berulang kali hampir ku bersekutu dengan kebencian untuk memusuhinya...

friends






sikap adalah warnamu

Semakin lama saya hidup, semakin saya sadar
Akan pengaruh sikap dalam kehidupan

Sikap lebih penting daripada ilmu,
daripada uang, daripada kesempatan,
daripada kegagalan, daripada keberhasilan,
daripada apapun yang mungkin dikatakan
atau dilakukan seseorang.

Sikap lebih penting
daripada penampilan, karunia, atau keahlian.
Hal yang paling menakjubkan adalah
Kita memiliki pilihan untuk menghasilkan
sikap yang kita miliki pada hari itu.

Kita tidak dapat mengubah masa lalu
Kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang
Kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi

Satu hal yang dapat kita ubah
adalah satu hal yang dapat kita kontrol,
dan itu adalah sikap kita.

Saya semakin yakin bahwa hidup adalah
10 persen dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita,
dan 90 persen adalah bagaimana sikap kita menghadapinya...........

aku memilihmu

Aku memilihmu…
Untuk menemani di kala siang tak bermentari
Saat malam tak berbintang
Agar dapat terangiku dengan senyumanmu...

Aku memilihmu…
Saat terik sinar menyengat dan membakar
Ketika bulan sabit atau purnama
Untuk temaniku menyusuri dunia

Aku memilihmu…
Dengan hati yang tak memilih waktu
Sepenuh cinta tanpa masa
Semenjak harap masih menjanjikan hampa

Dirimu selalu mengisi hatiku yang kosong
Dirimu selalu mewarnai hidupku yang sepi
Rasa perih yang dulu menyiksa kini berlahan hilang
Rasa percaya diriku kini telah kembali
Dan kini rasa bahagia yang kurasakan saat mengenalmu..

karna sungguh aku tlah memilihmu...

jangan kau redupkan semangatmu


Tibalah saat di mana diri ini berdiri
Mendongak menatap langit dan percaya diri
Melupakan seluruh rasa-rasa iri
Yang ada hanyalah sebuah pengakuan jati diri
Sadarlah bahwa engkau ada di atas bumi surga
Yang sungainya tak pernah kering selamanya
Yang tanahnya subur menumbuhkan apa saja
Yang ikannya melimpah di lautnya
Engkau tahu bahwa engkau adalah anak bangsa
Maka jangan kau nodai tanganmu dengan kehinaan
Kau ambil tetesan-tetesan jiwa dan raga
Hanya demi seonggok kertas dan air kehinaanKenapa harus duduk sambil menengadah
Sedangkan matahari masih bersinar cerah
Bukankah kau punya tangan dan kaki yang kuat
Sehingga kau menggunakannya untuk bekerja giat
Berdirilah di atas tempat yang paling tinggi
Dan raihlah bintang harapan yang selalu bersinar
Jangan sombong dan omong kosong tapi boleh rendah hati
Tunjukkan wajah kesungguhanmu ceria dan berbinar-binar Bangun dan bukalah matamu
Merangkaklah walau itu sulit bagimu
Berdirilah dan ambil semangat-semangat baru
Berjalanlah dan penuhilah dengan udara paru-parumu
Berlarilah mengalahkan angin tapi jangan lupa siapa dirimu
Lalu bakarlah hingga membara semangatmu itu
Lihatlah rumput-rumput merasakannya hingga terbakar karenamu
Angin pun bersahabat denganmu
Lalu apa yang kau takutkan dengan semua itu
Bangun dan bukalah matamu anak muda!
Kau ada di sini untuk menaklukkan dunia
Sebuah tujuan dan bukan sebuah angan belaka
Orang berkata kau adalah orang gila
Tapi inilah kesungguhan dan cita-cita muliaApabila kau berada di garis depan
Maka jangan sampai kau terbawa angan-angan
Berjuang untuk menegakkan keadilan
Agar jiwa dan harta tak terbuang meninggalkan harapan
Musuhmu adalah mereka yang mengambil milikmu
Musuhmu adalah mereka yang menggerogoti bangsamu
Gertaklah mereka dengan raungan dan aumanmu
Terkam mereka dengan rasa keadilanmu
Ajarkan kebenaran dan keadilan kepada anak cucumu
Hingga suatu saat merekalah yang pantas menjadi pewarismuLubang-lubang angin yang menimbulkan bunyi memekik
Tutuplah mereka hingga tak satupun yang berisik
Harapan itu adalah sebuah keheningan yang tak terusik
Sebab dari lubang-lubang itu muncul musuh-musuh bersisik
Laksana tikus, kecoa, ataupun ular berderik
Bahaya….bahaya….
Jangan sampai mereka menang dan mengambilnya
Tanah ini adalah tanah warisan dari leluhur kita
Pertahankan dan jangan sampai digerogoti oleh merekaBangsa manapun pasti menghormati kita
Asalkan kita menghormati apa yang ada dan pantas pada diri kita
Tanah ini tak akan menjadi tanah tandus
Gunung akan terus mengeluarkan airnya ketika kita haus
Padi akan terus menghijau selama kita urus
Hutan akan tetap rimbun selama gergaji tak terhunus
Hingga nanti ketika kita menang
Kan aku tampilkan pose menantang
Kutunjukkan wajahku yang senang dan riang
Aku tertawa karena kenyataan aku menang
Hingga saat itu tiba, tak akan ku ubah hasrat ini
Hingga saat itu tiba, kaki ini akan tetap berdiri
Sebelum berkarat ataupun patah pedang ini
Sebelum diambilnya jiwa ini
Aku akan tetap berjuang hingga tak kulihat mentari esok hari..

Minggu, 08 Mei 2011

kenali dirimu...

hidup takkan pernah berubah sampai kapanpun,jika kau mau berusaha merubah dirimu melawan getirnya hidup....kadang emang masalah datang silih berganti sampai kita merasa terjatuh....
APA,MENGAPA N' KENAPA????tanya yang selalu mengerogoti benak kita...truz n truz kita diuji dengan masalah...sampai kita benar2 sadar dengan diri...pingin lari dari kenyataan???itukah jalan terbaik???bagiku SALAH kawan...entah apa menurutmu...
tapi satu hal yang kau harus tau...kedewasaan,keikhlasan dan rasa yang bijak ada pada dirimu,jika kau telah mampu mengendalikan tiap masalahmu.............
selamat mencobanya kawan.............

Sabtu, 07 Mei 2011

jangan takut jatuh cinta......

Cinta itu sebuah jalan.
Cinta bukan sekedar perasaan,
tapi sebuah komitmen....
Perasaan bisa datang dan pergi begitu saja......
Jangan pernah takut untuk jatuh cinta....
mungkin akan begitu menyakitkan, dan mungkin akan menyebabkan kamu sakit dan menderita.....
tapi jika kamu tidak mengikuti kata hati, pada akhirnya kamu akan menangis.......
jauh lebih pedih...karena saat itu menyadari bahwa kamu tidak
pernah memberi....
Karna Lebih baik kehilangan harga diri dan
egomu bersama seseorang yang kamu cintai
dari pada kehilangan seseorang yang kamu cintai,
karena egomu yang tak berguna........
Cinta mungkin akan meninggalkan hatimu
bagaikan kepingan2 kaca, tapi tancapkan dalam pikiranmu, bahwa ada seseorang
yang akan bersedia untuk menambal lukamu dengan mengumpulkan kembali pecahan2
kaca itu..... Sehingga kamu akan menjadi utuh kembali.

janji adikku

Kisah ini aku kutip dari salah satu blog...dan bagiku sangat inspiratif...semoga bermanfaat juga buat kalian yang membacanya....
cekidot_________ _

kisah ini mungkin saja terjadi dalam hidup anda..
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari
demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit.
Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di
sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari
laci ayahku.
Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok,
dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu
takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi
Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya! “
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah
begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau
kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,
“Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi
yang akan kamu lakukan di masa
mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya
penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di
pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai
menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya
dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah
terjadi.” Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup
keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat,tapi insiden
tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan
lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8
tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk
masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima
untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok
di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi
bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan
hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air
matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya?
Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata,
“Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,telah cukup membaca
banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan
memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan
saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu
kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam
uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku
yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku
meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit
kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan
meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke
universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku
hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi,
aku akhirnya sampai ke tahun ketiga
(di universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika
teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun
menunggumu di luar sana!”
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar,
dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu
semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada
teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat
bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu
saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? ” Aku merasa
terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari
adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak
perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah
adikku bagaimana pun penampilanmu. ..”
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu.
Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya.
Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk
membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah
adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu
melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela
baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi
konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu
tidak menghentikanku bekerja dan…”
Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku
mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi
mereka tidak pernah mau.
Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu
harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak,
jagalah mertuamu saja.
Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku
mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.
Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah
kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya,
saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius.
Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
“Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak
berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti
itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang
sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun
itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani
dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu
bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa
bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan
tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada
dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua
jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,
saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

aku????....ya diriku...........

Dalam perjalanan hidupku

baik siang maupun malam

kau lihat…diriku

begini adanya…..

Tidak seperti kau

tidak pula seperti dia

aku…ya diriku

Tak bergaun bertabur jasa

bukan pula pewaris mahkota

aku tak punya tahta

tapi aku bukanlah dayang

Apa yang ada padaku

tidak ada yang kau banggakan

namun juga tak dapat kau hina

jangan memaksaku tuk jadi dia atau seperti kau

Biarkan aku jadi diriku

karena aku bukan dia

Aku…kau dan dia memang berbeda

biarkan begini adanya

karena kita semua berbeda

dan dalam perbedaan kita tercipta keindahan

dalam hidup...